JAM ISTIRAHAT

Ini cerpen, bukan kejadian sebenarnya. Apabila terdapat kesamaan tempat dan nama, harap dimaklumi ;D


Pukul 09.32. Bel istirahat baru berbunyi, dan aku bisa menarik napas lega karena pelajaran kimia hari ini telah selesai. Teman-teman langsung beranjak keluar. Kupikir sebagian mereka akan pergi ke kantin untuk sarapan, sebagian lagi mungkin ngobrol-ngobrol di ruang ekskul, dan sebagian lagi akan ke mushola untuk sholat dhuha. Tapi aku pengen tetap di kelas. Sebenarnya perut agak keroncongan, tapi aku masih lelah, karena tadi pagi terpaksa jalan kaki sambil mendorong motor yang bocor bannya. Ditambah lagi, tadi pelajaran kimia. Ya sudahlah, tunda saja makannya untuk jam istirahat kedua. Tapi…

“Mat, aku titip roti ya di kantin. Roti coklat, satu. Laper nih…”, mumpung Ahmad mau keluar, aku titip saja dia.

“Oke bro, duitnya ntar aja.” Ujar Ahmad, teman sebangkuku.

“Sip lah!” Aku pun nanti rencananya mau ngutang dulu, karena duit yang ada dalam dompetku cuma pas-pasan untuk tambal ban.

Aku pun kemudian membungkukan pundak, dan meletakkan kepalaku di atas lipatan tanganku di meja, sembari memandang ke luar jendela kelas. Awan gelap menaungi teman-temanku yang sedang bermain voli di lapangan. Kelas pun sudah mulai sepi, dan aku pun mulai memejamkan mata. Namun saat guntur menggelegar, aku pun kembali menegakkan badanku. Bukan karena kaget, tapi karena mendengar suara benda jatuh. Dan ternyata itu kotak pensil, milik Adelia. Ia duduk di baris kedua sisi seberang tempat aku duduk, di baris keempat. Sementara dua temanku baru saja meninggalkan kelas dengan membawa mukena. Sekarang tinggal kami berdua. Aku dan Adelia.

Aku mengumpulkan keberanian untuk bertanya, karena hanya dengan melihatnya saja jantungku sudah berdegup tak karuan. Rasa kantuk pun hilang. Adelia, perempuan yang baru saja menginjak usia 17 tahun pada Februari tahun ini sudah memikat hatiku saat tahun ajaran dimulai, dan kami ditempatkan di kelas yang sama, 3 IPA 1. Ia berambut panjang hingga pundak. Putih. Matanya sipit. Ia memiliki darah campuran ibunya yang tionghoa dan ayahnya yang melayu.

“Knapa Del?” Tanyaku setelah tergamang beberapa detik karena melihat wajahnya.

“Ngga, ni kotak pensil ku jatuh. Kaget aku denger guntur tadi.” Jawabnya setelah mengambil kotak pensil.

“Ya ampuun… Be te we, kamu lagi ngapain sih?” Aku lihat dia sibuk dengan buku-buku kerja di atas meja, dan dengannya aku mulai mencari bahan pembicaraan. Aku pun segera beranjak untuk melihat apa yang ia lakukan, kemudian duduk satu bangku didepannya, agar dapat ngobrol lebih nyaman.

“Lagi ngerjain tugas buat jam terakhir nih. Duh… mana masih banyak lagi!” Ia kembali sibuk dengan buku kerjanya.

“Ooh… Tugas matematiknya Pak Mardi Ya? Mau pinjem buku kerjaku?” Aku menawarkan.

“Wah.. Makasih banget Jar, tapi aku dah pinjem punya Aini. Ni, lagi kusalin.” jawabnya dengan santai.

“Kok baru dikerjain sekarang? Tumben banget…” Tanyaku penasaran. Adelia memang anak pintar, tapi tak begitu rajin. Walaupun demikian, sangat jarang melihatnya mengerjakan tugas rumah di sekolah.

“Iya nih. Tadi malem nggak sempat ngerjain. Pulang malem sih…”

“Pulang malem? Ih.. kemana tuh sampe pulang malem?” Aku makin penasaran.

“Cuma nonton, tapi dapetnya yang midnite. Pulang dari bioskop langsung tidur, bangunnya kesiangan lagi.” aku terbakar.

“Suit-suiiit… nonton bareng sapa yaaa…”aku benar-benar terbakar.

“Ada deeh… mau tau aja!” jawabnya dengan nada centil.

“Boleh dong… aku kan cemburu…” Aku ungkapkan saja perasaanku, namun dengan nada bercanda. Aku memang tidak pernah mengungkapkan perasaanku pada Adelia. Selama ini aku hanya menjadi pengagum rahasianya. Aku senang duduk di baris belakang kelas, agar senantiasa dapat melihatnya.

“Ih, Fajar. Jangan gombal deh…” pintanya dengan muka cemberut. “Tugasku belom kelar nih…”

“Ok deh…” Aku pun diam setelahnya. Namun tak beranjak dari kursi tempat aku duduk.
Aku terus memandangi Adelia yang kembali serius mengerjakan tugasnya. Pikiranku masih kacau karena perkataanya tadi. Pergi dengan siapa dia semalam hingga pulang larut malam? Aku memang tidak mengenal Adelia secara mendalam. Aku tidak tahu dia punya pacar atau tidak. Aku tidak tahu dia anak keberapa dari berapa saudara. Aku tidak tahu rumahnya di mana. Tapi aku menganggap dia cewek yang baik. Adelia tidak pelit untuk berbagi dengan teman-temannya, baik itu materi atau pengetahuan. Dia orang yang mudah bersahabat dengan siapa saja. Buktinya, aku yang introvert ini sangat nyaman ngobrol dengannya. Kami bisa dibilang berteman baik, walaupun bukan teman dekat. Dan aku sering bercanda dengannya. Paras cantiknya yang tidak pelit senyum itu ditambah dengan kepribadiannya yang menawan, sungguh membuatku terpesona.

Awan gelap sudah berurai hujan yang deras. Teman-temanku yang berada di lapangan pun berlarian untuk masuk ke gedung sekolah. Suasana sepi dan damai ini membuatku berpikir, apakah sekarang waktunya? aku ingin mengungkapkan perasaanku pada Adelia. Aku ingin ia tahu kalau aku suka padanya. Tapi aku kembali berpikir, apa yang akan terjadi setelahnya? apakah dia akan menerimaku? kalau tidak, apakah dia akan tetap menjadi temanku? apakah aku tidak dapat bercanda lagi dengannya? apakah aku akan kehilangan senyum dan tawanya?

Guntur kembali menggelegar sesaat setelah kilat menyambar. Dan kata-kata itu pun terlepas begitu saja.

“Del, aku suka kamu.” Aku memecahkan konsentrasi Adelia dan aku melihat Adelia berhenti menulis, dan kemudian mengangkat mukanya, menatap mataku.

“Ngh? Apa Jar?” Aku merasakan mukaku memanas. Aku pikir tampangku sudah seperti kepiting rebus. Jantungku berdegup dengan keras dan kencang, hingga aku dapat merasakannya di seluruh rongga dadaku, membuatku bertambah sesak. Namun kuyakinkan pada diriku, untuk mengatakannya sekali lagi.

“Aku suka kamu, Del.” dan Adelia terdiam. Aku berusaha agar tetap menatap matanya. Entah dari mana datangnya keberanian ini. Kemudian ia tertunduk. Kulihat sekilas wajahnya merona merah. Ia menutup pulpennya sebelum kembali mengangkat wajahnya dan menatapku.

“Fajar…” Adelia kembali terdiam. Namun aku rela menunggu berabad-abad agar dapat mendengar kata-kata Adelia selanjutnya. Ia kembali membuka mulutnya, dan jantungku serasa berhenti berdetak. Namun…

Teet… teet… teet… Bel tanda selesai istirahat berbunyi. Sedetik berikutnya Ahmad masuk ke kelas.

“Nih bro, roti coklatmu!”

“Uhm? Oh ya… Thanks Mat!” kesadaranku belum sepenuhnya terkumpul. Aku kembali menatap Adelia. Namun ternyata ia sudah kembali menundukkan wajahnya. Aku tahu, ia tidak akan menjawab sekarang. Kelas pun semakin ramai, dan aku pun kembali ke tempat dudukku. Dari sana, aku melihat Adelia memegangi pulpennya, namun tidak bergerak sama sekali. Kemudian ia memandangiku sekali lagi sebelum kembali menunduk.

Aku menunggu jawabmu, Adelia. Batinku.

2 responses to “JAM ISTIRAHAT

  1. bguus……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s